Beranda | Artikel
Keterkaitan Antara Petunjuk, Karunia, Nikmat, dan Rahmat
9 jam lalu

Keterkaitan Antara Petunjuk, Karunia, Nikmat, dan Rahmat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 8 Safar 1448 H / 23 Juli 2026 M.

Kajian Islam Tentang Keterkaitan Antara Petunjuk, Karunia, Nikmat, dan Rahmat

“Petunjuk Allah, karunia-Nya, nikmat-Nya, serta rahmat-Nya merupakan hal-hal yang saling berkaitan dan tidak akan terpisah satu sama lain. Sebagaimana kesesatan dan kesengsaraan merupakan dua hal yang saling berkaitan dan tidak terpisah satu dari lainnya.”

Seseorang yang memperoleh hidayah petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa mendapatkan karunia, nikmat, serta kedekatan dengan rahmat-Nya. Sebaliknya, seseorang yang tersesat dan jauh dari petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla akan berada dekat dengan sebab-sebab kebinasaan dan kecelakaan, kecuali apabila orang tersebut segera kembali berpegang teguh pada agama Allah ‘Azza wa Jalla dengan cara mempelajari serta mengamalkannya guna menghilangkan kesesatan dari dirinya.

Kaitan erat antara kesesatan dan kesengsaraan ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلالٍ وَسُعُرٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.” (QS. Al-Qamar[54]: 47)

Kata su’ur merupakan bentuk jamak dari sa’ir, yaitu adzab yang merupakan puncak dari kesengsaraan dan kecelakaan. Orang-orang yang durhaka dan tersesat dari jalan Allah Subhanahu wa Ta meksudnya diancam akan senantiasa berada di dalam kesesatan serta kesengsaraan azab.

Sebab-Sebab Kebinasaan Penghuni Neraka

Pengabaian terhadap fungsi indra yang dianugerahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla menjadi penyebab utama manusia terjerumus ke dalam kesesatan dan kesengsaraan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf[7]: 179)

Manusia yang tersesat hingga dinyatakan lebih sesat daripada binatang ternak digolongkan sebagai penghuni neraka Jahannam. Keadaan tersebut disebabkan oleh sikap berpaling dari petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla serta petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga timbul kesesatan yang berujung pada azab neraka Jahannam. Kesesatan, kesengsaraan, dan kebinasaan merupakan hal-hal yang senantiasa saling menyertai.

Penyesalan para penghuni neraka direkam di dalam Al-Qur’an:

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.`” (QS. Al-Mulk[67]: 10)

Sikap berpaling dari petunjuk sewaktu di dunia menyebabkan manusia tersesat hingga menjadi penghuni neraka di akhirat. Hal ini menegaskan adanya ikatan yang erat antara kesesatan dan kesengsaraan di dalam azab Allah ‘Azza wa Jalla.

Setiap hamba yang bersungguh-sungguh mengikuti petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla dengan niat yang ikhlas guna menggapai rahmat serta keselamatan diri akan senantiasa dekat dengan karunia, nikmat, dan rahmat-Nya. Kemudahan di dalam menerima petunjuk berbanding lurus dengan kemudahan dalam memperoleh rahmat serta nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Penggabungan Antara Petunjuk dan Kelapangan Dada

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan antara petunjuk, kelapangan dada di dalam menerima kebenaran, serta kehidupan yang baik. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan antara kesesatan, kesempitan dada, serta kehidupan yang penuh dengan kesusahan.

Hubungan antara petunjuk dan kelapangan dada ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ…

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk memberikan kepada hidayah, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (QS. Al-An’am[6]: 125)

Agama Islam merupakan karunia terbesar yang diturunkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada manusia. Penerimaan terhadap Islam secara lapang dada merupakan tanda perolehan nikmat serta karunia terbesar. Sebaliknya, penolakan dan kesempitan dada terhadap jalan Islam menjadi bentuk kesengsaraan hidup yang paling nyata di dunia.

Kelapangan dada dan cahaya petunjuk senantiasa berdampingan di dalam kehidupan seorang mukmin, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإِسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang hatinya keras).” (QS. Az-Zumar[39]: 22)

Orang yang dilapangkan dadanya untuk menerima Islam berada di atas cahaya petunjuk dari Rabbnya. Cahaya petunjuk senantiasa beriringan dengan kelapangan hati serta kedamaian hidup. Tadabbur terhadap ayat-ayat Al-Qur’an memberikan pemahaman bahwa berbagai kesusahan hidup berakar dari jarak yang terbentang dengan petunjuk serta bimbingan Islam.

Penggabungan Antara Petunjuk dan Sikap Inabah

Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpunkan antara petunjuk (al-huda) dan sikap inabah, yaitu senantiasa kembali serta bertobat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika setan berusaha menggoda seorang hamba agar terjerumus ke dalam dosa dan jauh dari kelimpahan nikmat, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jalan keluar berupa inabah dan pertobatan. Sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan antara kesesatan dan kerasnya hati yang tertutup dari kebenaran.

Keterkaitan antara hidayah dan sikap inabah ditegaskan di dalam Al-Qur’an:

اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Allah memilih orang yang Dikehendaki-Nya kepada agama-Nya dan Memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura[42]: 13)

Petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa dekat dengan hamba-hamba yang selalu kembali dan mengingat-Nya. Sebaliknya, kemalangan akibat kerasnya hati dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar[39]: 22)

Kesesatan senantiasa berkaitan erat dengan kondisi hati yang keras dan tertutup, sehingga tidak mampu menerima kebaikan maupun kebenaran dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Kelapangan hati di dalam menerima Islam menjadi landasan utama bagi kemudahan di dalam menghadapi seluruh urusan duniawi. Seorang hamba yang hatinya lapang akan menyikapi keberlimpahan nikmat dengan rasa syukur serta menghadapi cobaan dengan kesabaran, sehingga seluruh keadaannya senantiasa berbuah kebaikan.

Keindahan kondisi seorang mukmin dipaparkan di dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka hal itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Perubahan situasi dan dinamika kehidupan tidak memengaruhi keteguhan seorang hamba selama ia senantiasa dekat dengan petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla serta berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan hadits.

Sifat-Sifat Allah ‘Azza wa Jalla dalam Memberi dan Menahan

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah menyimpulkan pembahasan mengenai karunia dan pencegahan sebagai berikut:

“Petunjuk, rahmat, serta hal-hal yang berkaitan dengan keduanya, seperti kelapangan hati, kenikmatan, dan ketenangan hidup merupakan bagian dari karunia dan limpahan nikmat-Nya. Semuanya bersumber dari sifat-sifat Allah yang Maha Memberi kebaikan. Sebaliknya, kesesatan, azab, dan hal-hal yang berhubungan dengannya bersumber dari sifat menahan (al-man’u).”

Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang Maha Sempurna, seperti Al-Barri (Maha Berbuat Baik), Al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia), dan Al-Mannan (Maha Pemberi Anugerah). Pemberian hidayah dan rahmat merupakan manifestasi dari kemurahan sifat-sifat-Nya kepada para hamba. Pemberian karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumber murni dari rahmat dan kasih sayang-Nya. Sebaliknya, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menahan pemberian-Nya, hal tersebut berlandaskan hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna. Seluruh perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala berakar dari sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi lagi Maha Sempurna.

Keadilan dan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala bermakna meletakkan segala sesuatu tepat pada tempatnya secara sempurna. Ketetapan-Nya tidak dipertanyakan oleh makhluk, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:

لا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (QS. Al-Anbiya[21]: 23)

Perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dipertanyakan karena berasal dari sifat-sifat-Nya yang Maha Indah dan Maha Sempurna. 

Pengaturan Makhluk dan Ketauhidan

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah menjelaskan penetapan ketauhidan serta kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya:

“Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatur makhluk-Nya di antara karunia dan keadilan-Nya, serta di antara pemberian dan pencegahan-Nya. Seluruh hal tersebut bersumber dari hikmah-Nya yang tinggi, kekuasaan-Nya yang sempurna, serta pujian-Nya yang agung. Maka, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.”

Penjelasan ini memberikan optimisme bagi seorang mukmin untuk senantiasa mendekatkan diri pada agama Allah ‘Azza wa Jalla, setia mempelajari petunjuk-Nya, serta menghadiri majelis ilmu. Upaya mempelajari petunjuk Al-Qur’an dan hadits menjadi pembuka pintu rahmat, karunia, serta kebaikan yang berlimpah dari sisi-Nya.

Limpahan karunia yang sempurna dari Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa tercurah kepada hamba-hamba yang taat dan mengikuti petunjuk-Nya. Kedekatan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla ditegaskan di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf[7]: 56)

Perintah untuk bertakwa guna meraih rahmat-Nya juga difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Hubungan Antara Hidayah dan Rahmat Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56400-keterkaitan-antara-petunjuk-karunia-nikmat-dan-rahmat/